Perhitungan

Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Banyak gores belum terputus saja

Satu rumah kecil putih dengan lampu merah muda caya

 

Langit bersih-cerah dan purnama raya…

Sudah itu tempatku tak tentu dimana.

 

Sekilap pandangan serupa dua klewang bergeseran

 

Sudah itu berlepasan dengan sidikit heran

Hembus kau aku tak perduli, ke Bandung, ke Sukabumi…!?

 

Kini aku meringkih dalam malam sunyi.

 

Chairil Anwar

16 Maret 1943

Kesabaran

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , ,

Aku tak bisa tidur

Orang ngomong, anjing nggonggong

Dunia jauh mengabur

Kelam mendinding batu

Dihantam suara bertalu-talu

Di sebelahnya api dan abu

 

Aku hendak berbicara

Suaraku hilang, tenaga terbang

Sudah! tidak jadi apa-apa!

Ini dunia enggan disapa, ambil perduli

 

Keras membeku air kali

Dan hidup bukan hidup lagi

 

Kuulangi yang dulu kembali

Sambil bertutup telinga, berpicing mata

Menunggu reda yang mesti tiba

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Penerimaan

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

 

Aku masih tetap sendiri

 

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

 

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

 

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi

 

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Kupu Malam dan Biniku

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Sambil berselisih lalu

mengebu debu.

 

Kupercepat langkah. Tak noleh ke belakang

Ngeri ini luka-terbuka sekali lagi terpandang

 

Barah ternganga

 

Melayang ingatan ke biniku

Lautan yang belum terduga

Biar lebih kami tujuh tahun bersatu

 

Barangkali tak setahuku

Ia menipuku.

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Lagu Biasa

Tags

, , , , , , , , , , , ,

Di teras rumah makan kami kini berhadapan

Baru berkenalan. Cuma berpandangan

Sungguhpun samudra jiwa sudah selam berselam

 

Masih saja berpandangan

Dalam lakon pertama

Orkes meningkah dengan “Carmen” pula.

 

Ia mengerling. Ia ketawa

Dan rumput kering terus menyala

Ia berkata. Suaranya nyaring tinggi

Darahku terhenti berlari

 

Ketika orkes memulai “Ave Maria”

Kuseret ia kesana…

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Taman

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Taman punya kita berdua

tak lebar luas, kecil saja

satu tak kehilangan lain dalamnya.

Bagi kau dan aku cukuplah

Taman kembangnya tak berpuluh warna

Padang rumputnya tak berbanding permadani

halus lembut dipijak kaki.

Bagi kita bukan halangan.

Karena

dalam taman punya berdua

Kau kembang, aku kumbang

aku kumbang, kau kembang.

Kecil, penuh surya taman kita

tempat merenggut dari dunia dan ‘nusia.

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Hukum

Tags

, , , , , , , , , , ,

Saban sore ia lalu depan rumahku

Dalam baju tebal abu-abu

 

Seorang jerih memikul. Banyak menangkis pukul.

 

Bungkuk jalannya – Lesu

Pucat mukanya – Lesu

 

Orang menyebut satu nama jaya

Mengingat kerjanya dan jasa

 

Melecut supaya terus ini padanya

 

Tapi mereka memaling. Ia begitu kurang tenaga

 

Pekik di angkasa: Perwira muda

Pagi ini menyinar lain masa

 

Nanti, kau dinanti-dimengerti!

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Aku

Tags

, , , , , , , , , , ,

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

 

Tak perlu sedu sedan itu

 

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

 

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

 

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

 

Dan aku akan lebih tidak perduli

 

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Chairil Anwar

Maret 1943

Suara Malam

Tags

, , , , , , , , , , ,

Dunia badai dan topan

Manusia mengingatkan “Kebakaran di Hutan”

Jadi ke mana

Untuk damai dan reda?

Mati.

barang kali ini diam kaku saja

dengan ketenangan selama bersatu

mengatasi suka dan duka

kekebalan terhadap debu dan nafsu.

Berbaring tak sedar

Seperti kapal pecah di dasar lautan

jemu dipukul ombak besar.

Atau ini.

Peleburan dalam Tiada

dan sekali akan menghadap cahaya.

Ya Allah! Badanku terbakar – segala samar.

Aku sudah melewati batas.

Kembali? Pintu tertutup dengan keras.

 

Chairil Anwar

Februari 1943

Pelarian

Tags

, , , , , , , , , , ,

I

Tak tertahan lagi

remang miang sengketa di sini

 

Dalam lari

Dihempaskannya pintu keras tak berhingga.

 

Hancur-luluh sepi seketika

Dan paduan dua jiwa.

 

II

Dari kelam ke malam

Tertawa-meringis malam menerimanya

Ini batu baru tercampung dalam gelita

“Mau apa? Rayu dan pelupa,

Aku ada! Pilih saja!

Bujuk dibeli?

Atau sungai sunyi?

Mari! Mari!

Turut saja!”

 

Tak kuasa – terengkam

Ia dicengkam malam.

 

Chairil Anwar

Februari 1943